Seri Buku “Transformasi Indonesia”, Aspirasi Dewan Profesor Unpad untuk Dukung Pencapaian Visi 2045

Seri Buku “Transformasi Indonesia”, Aspirasi Dewan Profesor Unpad untuk Dukung Pencapaian Visi 2045

bappenas-5

[Kanal Media Unpad] Kementerian PPN/Bappenas RI memerlukan aspirasi seluruh pihak, khususnya akademisi untuk berbagi dan berkontribusi menyatukan pandangan terkait visi Indonesia 2045. Hal ini kemudian mendorong para guru besar Universitas Padjadjaran memberikan sumbangsih pemikiran yang dituangkan melalui buku.

Seri buku “Transformasi Indonesia Menuju 2045” yang disusun Dewan Profesor Unpad tersebut terdiri dari tiga judul buku, yaitu: “Membangun Manusia dan Kemanusiaan “, “Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan”, serta “Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat”.

Tiga buku tersebut diserahkan secara simbolis oleh Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa dalam acara Inisiasi Bersama Visi Indonesia 2045 “The Future is Now: Collaborative Action to Achieve Indonesia Vision 2045” di Kantor Bappenas RI, Jakarta, Kamis (9/2/2023).

“Buku aspirasi guru besar Unpad tersebut diharapkan dapat memperkaya dokumen visi Indonesia 2045,” ujar Rektor.

Ketua Dewan Profesor Unpad Prof. Arief Anshory Yusuf, PhD, yang hadir dalam acara tersebut menuturkan, latar belakang penyusunan buku tersebut didasarkan adanya perhatian atau kekhawatiran para guru besar Unpad mengenai adanya growth-deficit untuk mencapai visi 2045. Selain itu, buku ini juga disusun untuk mendukung visi Indonesia 2045 yang salah satunya adalah keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Untuk keluar dari jebakan tersebut, kata Prof. Arief, Bappenas sepakat bahwa Indonesia perlu melakukan transformasi ekonomi. Melalui transformasi tersebut, Indonesia perlu mengalihkan sumber pertumbuhan ekonomi utama yang sebelumnya berbasis tenaga kerja dan sumber daya alam menjadi berbasis produktivitas.

Dari kesimpulan tersebut, para guru besar Unpad sepakat untuk mendukung proses transformasi tersebut agar mampu mencapai visi di 2045. “Kami sepakat transformasi diperlukan untuk menjadi engine untuk akselerasi mencapai visi itu. Akan tetapi, kita juga merasa bahwa dalam prosesnya harus lebih holistik, tidak hanya mentransformasikan ekonomi, tetapi lebih holistik,” ujarnya.

Berdasarkan pandangan itu, para guru besar Unpad kemudian menuangkan gagasannya ke dalam seri buku Transformasi Indonesia. Gagasan dari kepakaran guru besar yang multidisipliner tersebut diharapkan dapat memberikan beragam masukan dengan sudut pandang yang juga beragam, sehingga bisa melengkapi apa yang sedang pemerintah siapkan.

Lebih lanjut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut mengatakan, kunci dari seri buku “Transformasi Indonesia: Membangun Manusia dan Kemanusiaan” tersebut menekankan pada peran manusia. Selama ini, dalam konteks peningkatan produktivitas kerap diistilahkan dengan pembangunan sumber daya manusia atau human resource development/human capital investment.

Karena itu, Unpad lebih memilih untuk menekankan istilah human centered development. “Ini menggarisbawahi bahwa manusia bukan hanya input dan obyek dalam transformasi, tetapi juga sebagai subyek dan sasaran dari transformasi,” imbuhnya.

Sementara buku kedua “Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan”, Unpad menggarisbawahi pentingnya melakukan diversfikasi sumber daya alam jangan hanya bertumpu pada pengelolaan sumber daya alam tradisional. “Indonesia itu kaya, kita harus gali semua supaya menjadi alternatif sumber daya alam,” tambahnya.

Selain itu, upaya peningkatan nilai tambah sumber daya alam harus paralel dengan pengembangan teknologi. Prof. Arief menekankan, pengembangan teknologi diperlukan agar Indonesia tidak hanya mengundang pihak asing untuk mengembangkan teknologinya. “Kita juga harus kuasai teknologi sendiri,” ujarnya.

Buku terakhir “Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat” menekankan bahwa fondasi dari transformasi Indonesia adalah manusia-manusia yang kuat. Fokus dalam buku tersebut mengerucut pada penguatan kesehatan anak-anak di Indonesia.

“Ini berawal dari urgensi, mengingat angkatan kerja kita saat ini hampir bisa dipastikan setengahnya mengalami stunting di masa balitanya. Jika saja ini bisa dihindari, tentunya pertumbuhan ekonomi kita akan berjalan lebih cepat dan growth-gap untuk mencapai visi 2045 bisa kita lalui lebih cepat,” jelasnya.*